My name is Nabilla Sophiarany and everyone is used to calling me Bella. I am from Lombok-an exotic island located in West Nusa Tenggara-and now is continuing my study at University of Indonesia taking Public Health as my major subject. I love reading, writing, musics, movies, beaches, green, so if you think you have the same pattern as mine somehow we can be friend. I am the second children and the only daughter of my parents. feel free to say Hello and get to know me :)
Catching Elephant is a theme by Andy Taylor
Well, I am here back to the college’s life (which means no breakfast in the early morning, no beaches, travelled by bikun; angkot; train, and no parents). This semester gonna be real hard as I followed the oganization and take more number of SKS than last semester. I have some resolutions for this semester.
First, complainless. I should stop complaining about missing home and enjoy my life here. No matter what, let life flows for what it will be. I should stop thinking about what did I do last holiday in home, but what can I do now here.
Second, give more care to my healthy and body. Eating healthy food (vegetables and fruits more often), eat less junk food and another oily food. Have a good rest and sleep. I should stop stay up lately till midnight. I also should do more exercise (maybe having run around UI and play volley ball).
Third, saving. Yeah, I’m planning to save a bit amount of my money. It’s for backpacking. I-someday-will do it. I am going to buy a cute saving-box soon. For doing saving, I should stop spend my money for not important things (hedon). And I really hope I can do this because spending money is so easy than earning it.
Fourth, Get Focus. I should focus for what I am doing now (not yesterday). I should stop thinking about love (or decrease it), laziness, and other small things which are not related to my focuses.
Fifth, get happy. One thing I believe, We live to pursue a happiness. Happiness might be different from one person to another. And pursue what it really is for you. Give your love for those who deserve to accept it. Be more calm, loving, and understanding towards my family and friends. Don’t regret something that had been happened. That’s no need. Just let things happen and make things happen. Life the kind of life you chose and don’t regret it.
Last, be a winner. Yeah, you must be a winner for your life. It’s yours so you hold the control. Drive it to a right way, reach the goal, and be a winner.
Here I come, new semester!
Bella
Bella
~ I opened this site suddenly just because I found myself really miss writing.

“Tik..tik..tik…” Aku mendengar suara jarum jam yang ingin segera ku hentikan. Benarkah jika kita berani menghentikan waktu, maka roh-roh alam akan membalas dendam kepada kita. Lusinan elf, dwarf, roh pohon yang tanpa disadari menonton kita seakan kita adalah artis hollywood. Akankah mereka meracau jikalau tontonan mereka dihentikan- atau lebih tepatnya karena aktor dan aktris hollywood itu ikut campur dalam pengaturan waktu yang dibuat Tuhan? Entahlah….. Aku tak tahu. Dan aku juga tak ingin tahu.
Hitam dan Putih. Lalu ada diantara keduanya, yaitu abu-abu. Begitulah caraku melihat dunia. Ada orang yang menyerahkan dirinya kepada hitam. Mereka merusak bumi. Gairah kesenangan muncul saat mereka melihat perbuatan jahat. Lalu ada yang putih-putih. Mereka yang selalu ingin menegakkan kebenaran. Tapi, aku tidak percaya di zaman ini masih ada yang murni putih-putih. Kemudian tampak warna abu-abu. Mereka berkecimpung di antara keduanya. Goyah dengan yang putih dan yang hitam.
Pernahkah kamu ingin pergi jauh? Ke tempat yang penuh warna bagaikan pelangi? Aku pernah. Dulu sekali. Aku ingin melarikan diri dari kehidupanku yang nyata. Pergi ke dunia utopiaku. Duniaku yang sempurna. Dunia khayalan yang aku ciptakan sendiri di tengah ketidaksadaranku. Melayang-layang dan terbang di sana.
Aku terkadang terlalu larut membaca buku-buku. Yang menjanjikan khayalan dan mimpi. Membangkitkan gelora untuk hidup. Aku hampir lupa dunia di sekelilingku. Aku lupa bumi berotasi di porosnya selama 24 jam. Aku lupa manusia perlu hidup bersosialisasi. Aku lupa ada orang-orang yang harus kuberi perhatian. Lalu, suatu hari seseorang pernah berkata. Mengkandaskan semua begitu saja. “Tinggalkan novel-novel itu. Hiduplah. Be a real life-minded person! Jangan jadi story-minded person!”

Kita manusia, bahkan untuk mencapai level “cacat” saja masih jauh. Apalagi level “sempurna”. Tapi kenapa banyak orang yang menganggap orang lain itu sempurna? Satu hal yang aku simpulkan. Mereka sedang bermimpi. Kita sedang bermimpi bukan?
To sum it up: Ada hal yang sangat aku percaya. Di dunia ini, tak ada hal yang sempurna. Allah menyimpan “perfect joy” itu di sisinya. Untuk menjadikan hidup ini lebih menarik.

Kejadian ini seperti jiwaku terbagi empat. Diiriskan menjadi empat bagian sama besar. Keempat bagiannya diletakkan di tempat-tempat berbeda. Namun, keempatnya merupakan satu kesatuan yang padu dan saling mengisi.
Sekeping jiwaku yang pertama diletakkan di Bali. Ia sedang mengalami kesulitan dalam menghadapi atmosfer kehidupan di sana. Berusaha (dengan sisa tenaga yang dimilikinya) mengeluarkan setiap tekad dan kemauannya untuk terus bertahan. Bangkit dari sisa-sisa keyakinan yang hanya tinggal secuil dalam potongannya. Ia terus berjuang seperti perang puputan. Tak kenal lelah sampai titik darah penghabisan. Apapun itu, jiwaku yang di sini yakin dia dapat melaksanakan semuanya dengan baik. As always, dia selalu begitu. Dia selalu berhasil melakukannya.
Sekeping jiwaku yang kedua diletakkan di Jatinangor. Ia sedang tumbuh dewasa. Sedari dulu dia memang sudah dewasa. Pemikirannya yang matang membuatku semakin kagum pada sekeping jiwa ini. Inginku menyusulnya ke sana sehari saja. Untuk mengunjunginya. Aku semakin penasaran dibuatnya. Melihatnya dengan seragam kebanggaan yang tak boleh dilepaskan saat berpergian itu. Tidak cukup hanya dengan sebuah panggilan berdurasi satu jam saja. Hal yang ingin kami ungkapkan sebanding dengan jumlah jiwa-jiwa yang hidup di bawah langit biru ini. Oh, sekeping jiwa yang selalu jadi sahabatku.
Sekeping jiwaku yang ketiga diletakkan di Depok. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Aku cuma berharap dia sehat-sehat saja. Dia kepingan jiwa yang mungkin paling redup. Bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, karena aku tidak pernah berkomunikasi dengannya, jadi aku tidak mengetahui cahaya api kehidupannya. Redupnya api itu dihalangi oleh plastik-plastik pembungkus yang menumpuk. Tapi aku tahu, keping itu tetap bernafas dengan kebaikan hatinya di sana.
Sekeping jiwaku yang terakhir (dan yang utama) diletakkan di Lombok. Mengendalikan semuanya. Bercengkerama dengan sahabat-sahabat lama. Rasanya semanis teh. Lezatnya tak bisa diungkapkan. Bercanda tawa seakan waktu 5 jam tidak ada ubahnya dengan 5 menit. Benar-benar tak kenal waktu! Lelucon dan tawa yang dikeluarkan begitu renyahnya. Sekeping jiwa ini ragu. Ia ragu untuk kembali mengunjungi Depok. Ragu jika kebahagiaan tidak lagi menghampirinya seperti di sini. Tapi senyumnya tak pudar (bahkan tak akan pernah hilang) untuk menghadapi dunianya yang malang.
First of all, I want to ask, did I tell I love the rains? Did I? Okay, I did. And now, I am so full of rains, and I want the sun to shine as brightly as it can. You questioned me, why I change my mind? Let me answer….
Well, I am in my holiday and this rain stops me from going to beach, doing my activities, playing outdoor, and I can’t help on that! For this time, I really want the sun to appear without any clouds covering it……
So, leave it.
Thinking about courage. Okay this is what I want to blog today. I am gonna use Indonesian so my sentence would be more understandable.
Keberanian. Suatu kata yang benar-benar menggetarkan. Dulu sekali saya pernah mempunyai keberanian yang begitu besar. Tapi itu dulu sekali, saat masih di Sekolah Dasar. Masa di mana kata-kata, cemooh, dan pendapat orang lain bukanlah halangan untuk mewujudkan sebuah mimpi. Saya begitu ingin mendapatkan sedikit saja dari keberanian masa lalu itu.
Semakin besar kita semakin mengerti persoalan. Jika saat kecil kita mencetuskan mimpi “Ingin menjadi Presiden” or “Mau jadi astronot”, when your age is increase you will be more realistic and you would say, “Cita-cita saya? Mungkin menjadi seorang dokter/guru/dosen saja”. Semakin kita dewasa, semakin cita-cita itu berubah menjadi sesuatu hal yang harus possible untuk kita raih.
Dahulu saat di Taman Kanak-Kanak, kita akan bermain dengan orang yang bahkan baru kita kenal. Kita tidak merasakan adanya suatu gap atau batasan dengan orang itu. Kita mengajaknya bermain seluncuran, ayunan, ataupun sekedar bernyanyi. Semakin kita dewasa, kita mulai berpikir untuk menjaga sikap dan merasakan adanya rasa segan.
Sepertinya saya kehilangan rasa “keberanian” itu saat ini. Perasaan minder itu justru jauh lebih dominan. Saya ingin menyusun kepingan-kepingan dari pecahan keberanian itu kembali dalam diri saya. Saya sungguh envy melihat orang-orang yang tetap melakukan sesuatu yang mereka percayai benar walaupun lingkungan sekitar kurang mendukung. As Hilary Duff said :
You always dress in yellow
When you want to dress in gold
Instead of listening to your heart
You do just what you’re told
Banyak orang yang terpengaruh kata-kata orang di sekitarnya tanpa mendengarkan kata hatinya sendiri (mungkin saya salah satunya). Untuk itu, lingkungan memang sangat mempengaruhi kepribadian seseorang. Kalau boleh memilih, saya ingin tetap menjadi anak kecil saja, yang selalu berani mengekspresikan setiap pecahan perasannya. Perhaps, karena kita tumbuh dewasa, ilmu kita bertambah dan kita menjadi semakin paham akan kerasnya dunia, maka keberanian itu ditutupi oleh keraguan tentang “Apakah kita bisa melakukan itu”. But, could we stay young forever? Could we stop from aging? Sigh
Berani untuk maju, berani untuk menggapai mimpi, berani untuk berbeda are not impossible. They just need your willingness to do it. So, be brave guys :D xx





Hello Tumblr, Hello Guys. You know, I was so busy lately with my Examinations. Now, I AM FREE! Anyway, this will be sort of long post. So, stay tune :D
2011 has been the greatest year of my life (without any doubt)! Banyak sekali kenangan yang tidak terlupakan tahun ini. Let’s flash back for a while. Semua perjuangan saya untuk menempuh UN. Suka dan duka bersama teman-teman SMA. Kenangan saat hp saya hilang di tengah perjalanan perpisahan. Bagaimana saya belajar untuk SNMPTN dan SIMAK. Finally, at the end semua perjuangan itu membuahkan hasil.
I will never forget how every night I miss home so much. Thinking about thousand miles away from Mum, Dad, Adit made me so sad. Bagaimana setiap harinya saya menghitung hari agar Januari lebih cepat datang dan kenyataannya Januari masih beberapa bulan lagi. Bagaimana tidur saya terisi wajah adik saya. Percaya atau tidak, saya menangis dalam mimpi karena mimpi itu berisi kematian adik dan kakak saya. Saya terbangun. Lalu tangisan dari mimpi itu membuat saya cegukan.
Beradaptasi dengan suasana kampus. OKK, Mabim, Pemira, dan semua rangkaiannya yang memberikan sebuah pelajaran yang sangat berarti bagi saya. Saya juga tidak lupa bagaimana tahun ini saya mendapat teman-teman dan sahabat baru dari seluruh Indonesia. Anthi, Ratna, Feby, Natal, Defri, Stevan, Jay, semuanya. You know what? I am full. Full of life. Full of happiness.
Saya bahagia. Tak dapat dilukiskan. Untouchable by words. Bagaimana Jam demi jam berlalu berkurang menjadi menit. Detik demi detik semakin terasa tak berarti. Saya kagum dengan kecepatan waktu. Can we stop the time for a while? Or even just slow it down? Saya belum bisa percaya bagaimana semua yang sudah terjadi hanya akan berakhir menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang manis maupun kenangan yang pahit. Terasa ganjil bahwa semua begitu cepat berubah. Tiba sudah saya di penghujung semester 1 ini. Semua UAS dan tugas sudah saya selesaikan. Saya menyaksikan, Lombok sudah membuka lebar-lebar tangannya kembali untuk menerima saya.
Saya ingin menikmati sejuknya desiran angin. Suara merdu ombak di pantai. Saya ingin mencipratkan air laut ke kaki saya. Berlari di sepanjang garis pantai. Pergi camping dan hiking bersama teman-teman lama tersayang dan tercinta (Ita, J, Mira, Danang PA, Tika, Lani, Danang PN, etc). Menikmati indahnya senja di Taman Udayana. Mengunjungi kolam pemandian dengan air yang sedingin es yang turun langsung dari sumber mata air. Menikmati lezatnya kuliner khas Lombok yang membuat saya meneteskan air liur. Mengunjungi sekolah yang memberikan saya kenangan. Memberikan sedikit pengalaman pada adik-adik kelas saya. Saya ingin menikmati liburan ini. Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan dunia, dunia yang telah lama saya tinggalkan.
I want to live my life with my way. I don’t want to waste every single second in my life. I want to taste the experince. Saya BENAR-BENAR ingin sekali travelling, berjalan-jalan di jalan-jalanan Eropa. Memberi sedikit uang pada pengamen jalanan yang berkualitas. Mampir ke cafe-cafe kecil yang menampilkan live music. Bertemu, berkenalan, dan berbagi cerita dengan orang dari belahan dunia yang berbeda. Menikmati orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Memotret setiap moment yang terjadi. Saya juga ingin menulis..menulis tanpa perlu memperhatikan grammar. Saya ingin menuliskan apa yang terlintas di pikiran, emosi, dan perasaan saya. Saya ingin seperti burung, yang bebas mengudara di angkasa.
Saya ingin mengeluarkan semua potensi yang ada di dalam diri saya. Yang menghadapi hidup tanpa rasa takut dan khawatir. Yang menjalani hari dengan senyum yang tulus. Yang bahagia karena dikelilingi orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya. Saya ingin bermimpi, dimana mimpi itu tidak mempunyai batas tanggal kadaluarsa. Di mana bermimpi adalah sebuah jendela harapan. Di mana bermimpi adalah starting line, awal dari semua hal yang akan terjadi. Saya ingin berkata dan menunjukkan pada semua orang, “I am in love with my life”.
Saya mengerti saya tidak akan dapat melakukan semua yang saya inginkan, menjadi semua hal yang saya impikan, atau hidup di kehidupan yang saya dambakan. Saya mungkin juga tidak dapat mendorong diri saya untuk melakukan semua yang ingin saya capai. Lalu apa, apa yang saya mau? Saya hanya ingin merasakan indahnya hidup di dunia ini. Mencintai seseorang yang memang patut mendapatkannya. Menikmati bayangan, melodi, ritme, nada, dan keindahan dari hidup. Dikelilingi oleh orang-orang yang peduli. Dikelilingi oleh orang-orang yang mengapresiasi keindahan. Merasakan semua yang perlu dirasakan. Mengalami semua yang perlu dialami. Menceritakan yang memang sangat indah untuk diceritakan. Mengukir semua menjadi sebuah kenangan indah yang dapat membuat saya tersenyum di masa tua nanti. Saya akan selalu tumbuh. Grow up is not an option. Maka biarlah saya menyimpan semua kenangan dari setiap puzzle-puzzle kehidupan ini. I don’t want any limitation. I just want to feel them all. Saya tau semua akan indah pada waktunya. Semua akan hadir di saat yang tepat. No matter what, I believe things will coming out together, and they will shining my life. Semua itu adalah kebahagiaan :)